Tenaga Dalam 3

Tenaga Dalam
Bagian ke-3
Oleh : Armansyah

Adalah cukup disayangkan bila sampai dijaman modern ini masih banyak
orang -terutama umat Islam- yang masih bersikap apriori dan cenderung
terlalu skeptis dengan keberadaan Tenaga Dalam, pikiran mereka hanya
seputar kontekstual keghaiban yang melibatkan unsur makhluk-makhluk dari
dimensi lain dalam upayanya menyesatkan manusia dari jalan Tuhan,
padahal tidak semua fenomena keghaiban harus dikonotasikan dengan para
lelembut, kuntilanak, wewe gombel, ifrit dan berbagai variasi nama Jin
(terutama Jin jahat) lainnya.

Memang terkadang tidak bisa disalahkan juga timbulnya pemikiran yang
seperti ini, sebab ada banyak sekali perguruan Tenaga Dalam (bahkan ada
juga perguruan silat yang nota bene lebih banyak mengandalkan tenaga
kasar) yang mencampur adukkan kekuatan dalam yang sebenarnya sangat
ilmiah dan rasional dengan mistikisme yang penuh dengan tindak khurafat.

Ini sudah menjadi bagian dari hukum Kausalitas Tuhan … jangankan
terhadap tenaga dalam, bahkan terhadap agamapun orang masih banyak yang
mencampur adukkannya dengan hal-hal yang absurd dan klenik, lihatlah
tradisi Maulud ataupun Tahun Baru Islam yang ada dikraton Yogya
umpamanya … atau tradisi pengkeramatan malam Jum’at kliwon disebagian
masyarakat Jawa … dan sebagainya.

Ini semua sebenarnya bisa disikapi secara dewasa dan arif oleh para
agamawan (Ulama) terlebih lagi bagi orang-orang yang mendalam ilmunya
(baik dibidang duniawiah apalagi akhirat), toh jika kita mau jujur,
defenisi ulama itu sebenarnya mengacu pada tingkat keilmuan yang
seimbang bukan hanya notabene ditujukan untuk orang-orang yang fasih
berbahasa Arab, hafal al-Qur’an ataupun pintar membaca hadis dan
berbagai kitab Fiqih sebagaimana deskripsi yang ada dan melekat dihati
sebagian besar umat Islam dewasa ini.

Istilah Ulama sangat identik dengan kata sarjana atau cendikiawan dalam
bahasa Indonesia … yaitu orang yang memiliki antusiasme dan mau
mendalami serta mengkaji ilmu-ilmu Tuhan baik yang bersifat fisik maupun
metafisik secara obyektif dan cerdas, berpikir tidak hanya berdasarkan
dogma saja tetapi mau mencari tahu penjelasan rasional dari dogma itu
sendiri.

Saat Tuhan berbicara mengenai fenomena turunnya hujan dari langit,
seorang Ulama seharusnya tidak hanya memandangnya dari sudut …ooh itu
kehendak Allah …tetapi juga mempelajari bagaimana siklus hujan bisa
terjadi dan kalau perlu mengupayakan cara (dengan teknik rasional yang
berdasarkan teknologi tentunya) untuk bisa membuat hujan buatan yang
bisa membantu masyarakat lainnya. Dengan demikian maka barulah apa yang
disebut dengan Khalifah Tuhan dibumi bisa terwujud dalam arti yang
sesungguhnya…. tetapi bila ide ini dibawa keforum pengajian …
percayalah kepada saya, anda akan ditertawakan atau malah dituding ingin
menjadi tuhan tandingan.

Saya ingin mengajak kita semua diforum ini untuk menyimak ayat berikut :

Dan diatas bumi terdapat bidang-bidang tanah  yang berdampingan,
kebun-kebun anggur, tanaman, pohon korma yang berakar tunggal dan yang
tumbuh berumpun, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian
tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
-Qs. 13 ar-Ra’d :4

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal. -Qs. ali Imran 3:190

Ya … Semua ayat al-Qur’an memang diturunkan dengan mengandung hal-hal
yang logis, dapat dicapai oleh pikiran manusia dan tidak menentang
fitrah yang ada, dan al-Qur’an itu pun dijadikan mudah agar dapat
dijadikan pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan
sebagaimana yang disebut dalam Surah al-Qamar ayat 17 :

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka
adakah orang yang mengambil pelajaran ? -Qs. 54 al-Qamar :17

dan surah al-A’raaf ayat 52 :

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami
jelaskan kitab tersebut atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. -Qs. 7: al-A’raaf 52

Sejak jaman dahulu ajaran-ajaran pokok agama yang disampaikan para Nabi
telah bercampur-aduk dengan keterangan-keterangan tentang mekanisme
alam, baik yang bercorak ilmiah rancu [pseudoscientific], mitos maupun
yang bersifat legendaris.

Orang yang meyakini kebenaran suatu agama juga disuruh percaya begitu
saja kepada segala macam mitos penciptaan serta kekuatan dari makhluk
dimensi alam sana sehingga esensi kebenaran agama yang sesungguhnya
tertutup.

Sikap menentang para ilmuwan barat (dan akhir-akhir ini juga dilakukan
sebagian sarjana Muslim) terhadap dogma-dogma agama terutama disebabkan
oleh adanya perbedaan antara ilmu pengetahuan yang telah teruji mengenai
alam dengan mitos-mitos alegorik yang dipaksakan untuk diyakini sebagai
[bukti-bukti] kebenaran tertulis mengenai fakta-fakta kosmologis dan
historis yang ada, padahal jika kita kembalikan pada teks-teks kitab
suci, semuanya tidak pernah didapati, yang ada hanya pemahaman seseorang
atau sekelompok kaum atas teks-teks kitab suci.

Dalam beragama, harus diakui secara jujur bahwa kita lebih banyak
menyandarkan kepercayaan dan pemahaman kepada pendapat dan pemahaman
orang lain yang terkadang pemikiran maupun ijtihad mereka sendiri lebih
banyak dipengaruhi pula oleh lingkungan dan peradaban yang berlaku
diseputarnya.

Umat Islam modern sudah mengalami krisis kepercayaan diri yang besar
sekalipun mereka sudah dihadapkan dengan peradaban serba maju dan
ditunjang berbagai teknologi informasi yang membuat dunia menjadi
semakin menyempit…. ada berjuta alasan akan diberikan untuk menutupi
krisis ketidak percayaan diri mereka tersebut dan untuk tidak memperluas
pembahasan maka kita pun tidak akan membahasnya disini.

Dilain pihak, fakta bahwa jasa yang diberikan oleh kemajuan Sains kepada
umat manusia sangatlah besar nilainya, antara lain terdiri dari
pembebasan ajaran-ajaran pokok agama atas semua nilai ilmiah dibalik
mitos-mitos yang beredar secara turun temurun.

Manusia diwajibkan oleh Allah melalui al-Quran supaya berpikir dan
merenungkan kekuasaan serta memperhatikan alam ciptaan-Nya. Karena
berpikir adalah merupakan salah satu dari fungsinya akal yang dimiliki
oleh manusia. Jika akal tidak berfungsi, maka manusia telah kehilangan
milik satu-satunya yang menjadikannya makhluk terbaik dan tidak dapat
lagi berperan dalam kehidupan selaku manusia yang berpredikat
Khalifatullah fil ardl.

Para cendikiawan telah sepakat bahwa pikiran yang bebas dan akal yang
kreatif adalah pangkal kemajuan umat manusia, sedangkan pikiran yang
terbelenggu dan akal yang tidak berinisiatif dan hanya pandai meniru
serta bertaqlid buta menjadi penghambat kemajuan individu dan umat.

Oleh sebab itulah Rasulullah Saw dalam banyak hadis mengisyaratkan
kepada umatnya tentang fungsi dan kegunaan akal yang sebenarnya agar
manusia tidak salah menempatkan derajat kemanusiaannya.

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi pun adalah perintah agar berpikir.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari
segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar
dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
Qs. 96 al-alaq : 1 – 5  

Perintah membaca bukan hanya dalam konteks dimana Nabi disuruh oleh
malaikat Jibril membaca saat turun wahyu pertama saja, akan tetapi bisa
kita tafsirkan secara luas dalam konteks masa kini. Dimana membaca
adalah awal dari berpikir. Awal dari mencari tahu dan melakukan
penyelidikan, awal dari menganalisa serta awal dari suatu pemahaman
ataupun kesimpulan.

Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ?”.
Maka apakah kamu tidak berpikir ?. -Qs. al-An’am 6:50

Bagi mereka yang masih bersikap skeptis terhadap rasionalitas Tenaga
Dalam, akan sangat jadi sudah mengabaikan berbagai pendapat para ahli
yang mengatakan bahwa manusia ini sebenarnya belum 100% memaksimalkan
kemampuan yang ada pada dirinya.

Tidak usah jauh-jauh, masalah pemaksimalan otak sajalah yang sudah
menjadi rahasia umum … toh kita baru 1 % saja menggunakannya secara
optimal, padahal jika otak ini bisa dimaksimalkan lagi dengan berbagai
stimulasi dan metode pelatihan maka dipercayai peradaban kita sekarang
akan cepat melompat berkali-kali lipat kedepan.

Fakta Seorang BJ. Habibie jauh lebih pintar dari orang kebanyakan
…begitu pula dengan Bill Gates, Linus Torvalds, Albert Einstein,
Stephen Hawking dan lain-lainnya … coba kita bayangkan andai semua
orang didunia ini mampu mencapai kepintaran seperti mereka … pasti ada
banyak hal yang sudah kita lakukan, paling tidak untuk agama dan bangsa.

Dengan metode optimalisasi otak tertentu, seseorang bisa lebih
memusatkan daya konsentrasi pikirannya … dan pada tahap lebih jauh
dengan kekuatan konsentrasi pikirannya itu dia mampu menggerakkan benda
atau bahkan mempengaruhi pikiran orang lain agar mau mengikuti apa yang
dia inginkan (tentu saja artikel saya ini tidak akan berkaitan dengan
teknik hipnotis sekelompok masyarakat yang berbau klenik), lihat saja
bagaimana seorang Romy Rafael atau Deddy Corbudzier bisa melakukan
banyak hal yang kelihatannya irrasional tetapi sebenarnya sangat logis
dan ilmiah jika dikaji dengan benar.

Sesungguhnya didalam otak kita, ada sepuluh hingga lima belas milyar sel
otak dan didalam sepuluh atau lima belas milyar sel otak tersebut ada
ribuan tentakel lagi didalamnya dan didalam setiap tentakel itu sendiri
terdapat ribuan tonjolan (mirip bantalan penghisap) yang mana dari
hubungan yang terbentuk oleh reaksi lembut elektrokimia antar
tonjolan-tonjolan inilah yang menunjukkan tingkat intelektualitas atau
kemampuan seseorang.

Penelitian intensif di Universitas California yang mempelajari tentang
otak kiri dan otak kanan telah mengungkapkan bahwa masing-masing otak
tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yang berbeda, dari yang
benar-benar kreatif dan imajinatif sampai yang paling logis dan
kuantitatif. Dimana akhirnya didapatkan kesimpulan bahwa orang yang
semata-mata menggunakan salah satu sisi otak saja seringkali mengalami
kesulitan dalam menggunakan sisi otak yang lainnya. Akibatnya menjadi
orang yang berpikir dengan dimensi tunggal dan sangat subyektif.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik
dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa
yang tidak mereka ketahui. -Qs. 36 Yaasin :36

Beberapa fungsi dari otak kiri adalah menangani angka, susunan, logika,
organisasi dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, beralasan
dengan pertimbangan yang deduktif dan analitis. Otak kiri terbiasa
dengan hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah, ia memfokuskan diri
pada garis dan rumus, sebaliknya mengabaikan kepelikan tentang warna dan
irama.

Adapun beberapa fungsi otak kanan adalah mengurus dimensi yang berbeda
seperti mimpi, berkhayal, warna, musik, ritme dan proses pemikiran lain
yang memerlukan kreativitas, imajinasi yang hidup, orisinalitas, daya
cipta dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan tidak begitu tegang,
kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis, dia lebih fokus pada
rupa dan bentuk, warna-warni dan kelembutan, sebaliknya mengabaikan
ukuran dan dimensi.

Selama ini sebagian besar dari kita telah terlalu berlebihan dalam
memanfaatkan otak kanan yang mengurusi hal-hal yang bersifat intuitif
dan mistik serta cenderung mengabaikan fungsi otak kiri yang bersifat
analistis dan rasional. Akibatnya ya seperti yang ada sekarang inilah
… orang cenderung bersikap skeptis, ada keanehan sedikit saja maka
mulai otak kanannya bekerja mencitrakan bahwa itu perbuatan setan dan
alhasil dia tidak akan mau percaya sedikitpun mengenai semua penjabaran
ilmiah yang ada dibalik semua keanehan itu.

Manusia memiliki 3 unsur utama yaitu Phisik (sebagai cashing), ar-Ruh
(sebagai baterai yang menjadi sumber kehidupan) dan an-Nafs (sebagai
jiwa yang memiliki kebebasan berkehendak, termasuk untuk beriman atau
kafir). Didalam cashing jasmani kita inilah ar-Ruh menyalakan listrik
atau energinya yang membuat kita bisa hidup sementara an-Nafs
(kadangkala disebut juga anfus) bisa melakukan perbuatan ini dan
perbuatan itu.

Didalam cashing jasmani ini Allah sudah melengkapi pula berbagai
keperluan dasar bagi an-Nafs untuk melakukan aplikasinya, mulai dari
akal, hati, jantung, tulang, paru-paru dan berbagai periferal serta
fitur-fitur lain yang begitu kompleks.

Pendalaman mengenai tubuh manusia sebenarnya belum final, para ahli
masih terus mengadakan penelitian demi penelitian untuk menyibak
berbagai rahasianya (keghaibannya). Karena itu bagi saya, orang yang
skeptis dengan keberadaan Tenaga Dalam hanya karena faktor keghaiban
semata menjadi terlalu sangat absurd sekali, sebab toh mengenai tenaga
kasarpun dia sebenarnya tidak bisa melihat keberadaannya.

Adakah diantara anda yang bisa menjelaskan kepada saya seperti apa wujud
tenaga kasar yang karenanya anda bisa berjalan, anda bisa membaca
tulisan ini, anda bisa menggerakkan tangan dipointer mouse dan berbagai
aktivitas harian lainnya ?

Atau apa yang membuat anda bisa berjalan …? Kaki kah ? ternyata bukan
… orang yang terkena stroke kakinya ada tetapi dia tidak bisa
digunakan …atau kenapa anda bisa mendorong atau memukul kaca hingga
pecah ? hanya karena ada tangankah ? atau karena hal lain ? tolong
pertanyaan saya ini dijawab dengan ilmiah dan bukan dogma keagamaan yang
berakhir dengan kalimat “semua karena Allah”.

Saya beri satu analogi ringan …

Sungguh, Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak lepas  /dari
garis orbitnya/, Jika semua itu sampai terlepas, adakah yang dapat
menahannya selain Dia ?
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. -Qs. 35:41

Ayat tersebut bila dijelaskan dengan penjabaran yang ilmiah maka
didapatlah bahwa cara Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak
saling bertabrakan satu dengan lainnya atau lepas dari garis orbitnya
adalah melalui hukum alam gravitasi ….karenanya setiap planet termasuk
bumi kita ini pasti ada gaya gravitasi yang membuat mereka tetap
mengorbit digaris edarnya masing-masing.

Pertanyaan lanjutannya … bisakah anda buktikan kepada saya bagaimana
wujud dari gaya gravitasi itu sendiri ? Sekali lagi saya minta wujud
phisiknya … bukan bukti keberadaannya yang lebih banyak merujuk pada
hasil maupun akibat.

Saya rasa tidak akan mampu dijawab … paling tidak dengan teknologi
yang kita capai saat tulisan ini dibuat…. sebab siapa tahu seiring
berjalannya sang waktu, maka gaya gravitasi itu bisa dibuktikan melalui
teknologi tertentu sebagaimana metode Kirlian yang mampu melihat
keberadaan aura.

Masih haruskah anda menjadi skeptis …? saya tidak.

Dengan mengabaikan orang-orang yang skeptis tersebut maka saya sebutkan
disini bila didalam tubuh manusia sebenarnya terdapat aliran listrik.
Pembuktiannya sederhana saja dan tidak perlu anda kelaboratorium
manapun.
Silahkan pukul lutut bagian bawah (dengkul), anda akan merasakan seperti
ada kejutan listrik.

Silahkan juga mencolek otot pada daerah leher ( tulang selangka ), anda
akan merasakan seperti ada kejutan listrik.
Pada kasus yang sering terjadi secara tidak disengaja, kadangkala siku
tangan kita terbentur pada dinding, kursi atau meja dan seketika itu
juga secara spontanitas biasanya kita merasakan bagai terkena strom
listrik.

Ini secara sederhana bisa membuktikan dalam tubuh manusia memang
terdapat tenaga listrik. Sekarang bila listrik dibangkitkan secara
benar, maka akan diperolah manfaat yang besar bagi kesehatan tubuh.
Sebaliknya bila orang secara sembarangan bermain-main dengan tenaga
listrik ini , akibatnya dapat menjadi fatal yaitu terjadinya kekacauan
medan listrik di dalam tubuh. Bila aliran listrik dalam tubuh bisa kita
buat aktif (artinya sengaja diolah), maka aliran tersebut akan selalu
mengalir dan pada tingkatan tertentu bisa berdaya guna sesuai apa yang
kita inginkan.

Tentu saja sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, ini tidaklah mudah,
diperlukan konsentrasi dan ketekunan berlatih, tidak ada Tenaga Dalam
bisa bangkit hanya dalam tempo yang singkat, apalagi cuma dalam hitungan
5 menit sampai 30 menit seperti yang bisa kita baca dikoran-koran. Untuk
yang ini saya sebut cuma bohong-bohongan, kalaupun bisa maka sifatnya
sudah tidak murni lagi dari diri sipelaku melainkan bisa merupakan
pinjaman ataupun isian dari sang guru ( sayangnya metode beginian inilah
yang banyak beredar dipasaran dan hanya menghancurkan rasionalitas
Tenaga Dalam ditengah masyarakat).

Saya juga berani mengatakan bahwa tidak ada Tenaga Dalam yang bisa
bangkit tanpa latihan phisik dan konsentrasi … belajar tenaga dalam
tidak perlu harus berpuasa dan berpantang anu dan anu …bahkan secara
orisinal, belajar tenaga dalam tidak pula perlu menggunakan lafas dzikir
atau amalan-amalan tertentu yang harus dibaca sekian ribu kali … itu
hanya buatan kita-kita saja untuk menarik minat pasar.

Ataupun secara positipnya hal tersebut dibuat oleh mereka yang memang
benar-benar melalui tenaga dalam ini agar orang-orang (terutama yang
berperi laku jahat) bisa kembali kejalan Tuhan (kebenaran) … karenanya
muncullah Tai Chi dan Kungfu dengan pernak-pernik Tao atau Budha dan
sejenisnya, di Indonesia sendiri karena mayoritasnya umat Islam maka ya
pernak-perniknya menggunakan atribut Islam.

Melatih tenaga dalam intinya melatih cara menggunakan nafas secara
efektif.
Pernafasan merupakan awal pembangunan phisik seorang anak manusia, semua
orang perlu memperhatikan pernafasan sendiri sehingga tubuhnya menjadi
sehat dan kuat. Seperti diketahui, seluruh olahraga konvensional memakai
sistem pernafasan aerob, di mana oksigen diambil seorang olahragawan
sebanyak-banyaknya melebihi kapasitas ketika dia sedang tidak
berolahraga, cuma olahraga konvensional tidak memperhatikan penabungan
oksigen yang didapat, sedangkan pernafasan luar biasa yang disebut
olahraga an-aerob(sebaliknya dari olahraga aerob) berusaha memaksimalkan
permanfaatan oksigen sesedikit mungkin, artinya mengirit pemanfaatan
oksigen.

Umumnya dalam belajar dan berlatih tenaga dalam, yang digunakan ada dua
sistem pernafasan, sistem aerob dan an-aerob, sehingga seseorang bisa
menjadi sangat kaya oksigen, hal ini diibaratkan seorang yang pandai
mencari harta dan pandai pula menabungnya (mengiritnya) sehingga
hartanya melimpah ruah.

Efek yang ditimbulkan olah napas berbeda dengan olah raga. Pada olah
napas, ketika kita melakukannya memang terasa capek. Namun, setelah
latihan justru kesegaran yang kita dapatkan dan tidak capek, baik fisik
maupun mental. Sebaliknya, pada olah raga, terutama yang sifatnya
permainan, setelah latihan selama 50 menit saja misalnya, capeknya sudah
sebegitunya.

Inti perbedaan tadi terletak pada adanya keteraturan. Pada olah napas,
ada keteraturan napas, emosi, gerak. Pada olah raga mungkin ada
keteraturan gerak, tapi emosi dan napasnya mungkin tidak teratur.
Padahal, keteraturan emosi dan napas sangat berpengaruh terhadap
kesegaran tubuh dan mental.

Seperti halnya olah raga, dalam berolah napas kita memerlukan pemanasan.
Tujuannya, untuk mempersiapkan tubuh memasuki bagian utama olah napas.
Bentuk pemanasannya berupa pelenturan tubuh dari bagian atas sampai
bawah dengan gerakan lembut atau diarahkan pada organ-organ tertentu
yang hendak diperkuat. Ini perlu karena dalam olah napas, di samping
konsentrasi, olah organ tubuh juga ikut dilibatkan. Dengan pemanasan
diharapkan tubuh menjadi lebih lentur, lemas, dan bebas dari ketegangan.

Dalam bagian utama olah napas ada tiga proses yang dilalui, yakni
menarik, menahan, dan membuang napas. Tujuannya untuk mengoptimalkan
volume napas, menjaga keteraturan napas, dan mengelola napas secara
efisien. Karena napas bisa diartikan sebagai daya hidup, maka dengan
menarik napas kita mengambil daya hidup melalui hidung dan menghimpunnya
di dalam tubuh. Kita tidak sekadar menghirup napas ala kadarnya,
melainkan sebanyak-banyaknya. Bisa lima atau sepuluh kali lipat dari
biasanya. Dengan demikian asupan oksigen ke tubuh akan jauh lebih banyak
dan maksimal.

Ketika napas kita tahan, daya hidup akan mengendap dan kita biarkan
untuk merasuki seluruh tubuh. Penahanan napas yang terarah dan
terkendali akan membantu mengaktifkan organ kita yang lemah,
memperbaikinya, dan memberdayakannya sehingga bisa berfungsi dengan
baik. Saluran energi yang tersumbat bisa terbuka kembali, aliran darah
ke seluruh tubuh lebih lancar, metabolisme tubuh pun menjadi sempurna.
Penahanan napas juga bermanfaat untuk melatih pengendalian diri atau
emosi. Dalam proses menahan napas, kita perlu pula melakukan penegangan
organ tertentu dan konsentrasi untuk membantu mengarahkan dan memusatkan
energi pada organ tersebut. Lama penahanan napas tergantung kemampuan
kita, tetapi secara bertahap bisa ditingkatkan.

Pada tahap awal biasanya sekitar 15 detik. Setelah mengalami latihan
secara kontinyu maka bisa ditingkatkan dengan menahan napas selama 40
detik keatas …tetapi intinya ini semua tidak bisa dipaksakan harus
sekian detik, tetapi ditingkatkan secara gradual sesuai dengan irama
hidup dan kemampuan masing-masing orang.

Setelah kita tahan beberapa saat, “sisa” napas mesti kita buang sampai
habis dengan bantuan pengecilan perut. Ini dimaksudkan agar menimbulkan
kerinduan yang kuat pada diri kita untuk menariknya kembali.
Pelepasannya bisa melalui mulut atau hidung.

Dalam proses ini terdapat unsur pembersihan dan pelepasan. Kita melepas
segala kotoran, emosi, stres, dan rasa sakit. Pelepasannya juga mesti
dalam harmoni dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, misalnya dengan
tubuh terlihat gagah atau wajah tersenyum lembut penuh kedamaian. Dalam
semua proses olah napas tadi, kita melibatkan pula olah organ tubuh yang
penekanannya pada penguatan tangan, bahu, dada, perut, pinggang, dan
paha dengan dasar pengembangan napas dada. Dengan olah organ tubuh,
energi napas disalurkan kepada organ-organ tubuh untuk memberi
penguatan. Olah organ tubuh mesti selalu harmoni dengan olah napas.
Gerakan tubuh lembut akan dibarengi karakter napas lembut pula. Begitu
pula sebaliknya. Untuk pengolahan energi di tangan misalnya, maka
pengerasan di tangan dilakukan sambil konsentrasi di tempat yang sama,
sedangkan organ lain dikendorkan.

Karena dalam olah napas ada penguatan pada organ tertentu, aliran energi
menjadi tidak seimbang dan merata. Karena itu perlu tahapan yang disebut
napas penyegaran sebagai sarana penyeimbang. Dengan seimbangnya kembali
energi dalam tubuh, tubuh menjadi segar kembali dan penuh vitalitas.

Bila ada orang yang belajar Tenaga Dalam malah menjadi sakit … maka
saya jamin pasti ada yang salah dari cara dia mengaplikasikan
pernapasannya …atau justru dia terlalu memaksakan diri untuk bisa
menguasai tenaga dalam hanya dengan tempo yang singkat.

Latihan mental tenaga dalam erat kaitannya dengan pengendalian perasan,
pikiran dan hawa nafsu.
Ketiga hal ini perlu betul-betul diperhatikan setiap saat sehingga bisa
mencapai kesempurnaan hidup atau insan kamil (manusia yang paripurna),
dimana dengan apa yang ia miliki tidak membuatnya menjadi besar kepala
dan merasa paling hebat …untuk itu maka memang dibutuhkan asupan
nilai-nilai agama didalamnya.

Landasan spiritual di dalam berlatih ilmu tenaga dalam seharusnya akan
semakin membuat kedekatan kita terhadap Allah, Tuhan yang menguasai
segala kerajaan, orang yang belajar Tenaga Dalam seyogyanya menjadi
orang yang mampu menyeimbangkan pemakaian otak kiri dan otak kanannya.

Demikian akhir dari semua penulisan saya mengenai Tenaga Dalam …
meskipun masih banyak lagi yang ingin disampaikan tetapi rasanya
cukuplah 3 artikel ini sebagai pengantar pengenalan … tulisan ini
dibuat bukan untuk mendeskreditkan pemahaman tertentu tetapi ini murni
dalam kerangka mendobrak kesubyektifitasan (bahasa agamanya sama dengan
kejumudan) berpikir sebagian umat Islam yang selalu bersikap skeptis.

Memang tulisan-tulisan disini beberapa bagiannya saya kutip dari
berbagai sumber dan saya bundel dengan semua pengalaman dan pemahaman
yang saya dapatkan selama mempelajari Tenaga Dalam yang tidak lupa pula
saya kaitkan dengan status saya selaku Muslim.

Kurang dan lebih saya minta maaf dan kepada Allah saya minta ampun,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
-Qs. 16 an-Nahl :125

Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam
semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi
mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Dan melihatlah orang-orang yang diberi ilmu itu bahwa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu adalah hal-hal yang benar (logis) serta memberi
petunjuk kepada tuntunan yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji. – Qs. 34
Saba’ : 6

Dan akan kamu ketahui kenyataan kabarnya sesudah waktunya tiba – Qs. 38
Shad : 88

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s